Text
Islam dan Politik
Bermula dari faham Barat yang memisahkan agama dengan negara; berlandaskan ajaran Kristen. Doktrin: berilah kepada kaisar apa yang kaisar punya, dan kepada Tuhan apa yang Tuhan punya, menjadikan kerohanian urusan gereja, yang terpisah dengan urusan dan kekuasaan duniawi. Masalah ini merambah semua bidang kehidupan, termasuk politik. Agama bukan tuntunan lagi, bahkan ia sekedar aspek pinggiran saja. Sementara Islam menuntut penempatannya yang sentral dalam kehidupan. Ernest Renan, lebih menekankan masa lalu, masa kini dan masa datang. Baginya, agama bukan kriteria, dan inilah yang ditekankan Soekarno dan kawan-kawannya. Natsir mengangkat menelusuri "kain" kesatuan dan persatuan bangsa ialah agama; tegasnya Islam, yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Diakui atau tidak, agama tidak bisa dilepaskan sama sekali dari politik. Barat yang sekuler mengenal Partai Katolik di Belanda, dan Partai Kristen Demokrat di Jerman. Di negeri komunis, seperti Uni Soviet (dahulu) dan Cina, gereja turut mebimbing masyarakat dalam politik, tidak secara terbuka, tetapi sembunyi-sembunyi. Kumpulan tulisan penulis dalam buku ini menguraikan problema seputar hubungan Islam dan politik dalam beragam konteks, karena masa serta kebijaksanaan pemerintah yang dihadapi beragam pula.
| B006748 | 237.3 Noe i | Perpustakaan STFSP - A (B1) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain